by Damar Fery Ardiyan
Link: http://www.portalkbr.com/berita/saga/2679667_4216.html. Media: PortalKBR.com; rilis: {19:10 17-Jun-2013}; akses: {08:50 18-Jun-2013}.
Kritik Orde Baru
![]() |
| Yap Thiam Hien (Gambar diambil dari PortalKBR.com via Langkahawal-its.blogspot.com. |
Kritik Yap terhadap Rezim Orba tak pernah berhenti. Akibatnya, ia sempat ditahan tanpa proses pengadilan pasca kerusuhan Malapetaka 15 Januari 1974 pecah di Jakarta. Kembali anak Yap, Yap Hong Ay mengenang. ”Satu yang dia sedih adalah, dia di sini kan pendiri. Dia itu penatua, salah satu pemimpin di sini. Tetapi, waktu ayah saya ditangkap, mereka tidak mengunjungi dia di penjara. Mereka takut. Waktu dia lepas dari penjara, ayah saya menghimbau mereka untuk membantu, mengunjungi tahanan politik. Karena itu ayah saya bentrok dengan majelis di sini. Ayah saya keluar, sejak tahun 70-an dia tidak punya Gereja. Dia sedih karena tidak punya tempat beribadah. Tetapi, dia tidak masuk Gereja lain. Kemudian, dia berkutbah di penjara kepada napi-napi.”
Setelah menghirup udara bebas, Yap berjuang sendiri membela sejumlah tahanan politik terdakwa Gerakan 30 September, seperti Asep Suryaman, Oei Tjoe Tat dan Letnan Kolonel Latif pada 1975-1978. “Kadang dia frustasi, sedih, merasa ditinggalkan. (Mengapa?) Dia pejuang sendiri, tidak ada pengikut. Kerabat banyak, tetapi yang berani ikut berjuang dengan dia tidak banyak,” imbuh Yap Hong Ay.
Yap juga pernah dicemooh saat menyampaikan kritik kepada Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki). Dalam pidatonya di hadapan ribuan peserta Kongres Baperki VII di Semarang, Jawa Tengah pada 1960, Yap menuding Ketua Baperki, Siauw Giok Tjan telah membelokan organisasi berdasarkan ideologi Partai Komunis Indonesia. Karenanya, Yap memutuskan untuk ke luar dari kepengurusan Baperki.
“Ke luar sebagai anggota tidak. Tetapi ayah saya protes terhadap kebijakan Ketua Baperki. Bahwa Baperki itu bergeser dari kitahnya, lebih banyak berpolitik yang mendukung PKI. Ini membahayakan, karena Baperki itu membawa nama masyarakat Thionghoa di Indonesia. Protes itu tidak berhasil. Waktu kongres tahun 1960, ayah saya membuat surat yang keras kepada ketua yang mengubah anggaran dasar dan rumah tangga untuk bisa leluasa berpolitik. Kemudian, ayah saya keluar dari pengurus.”
Sikap Yap yang tanpa kompromi, membuat sejumlah pemimpin Baperki saat itu khawatir. Oleh sebab itu, mereka mendesak Ketua Siauw Giok Tjan untuk menggeser Yap dari kursi Wakil Ketua Baperki. Mereka menilai, Yap tidak mendukung demokrasi terpimpin Soekarno pada 1957.
Baginya sistem seperti itu dapat merusak demokrasi dan melahirkan pemimpin yang diktator.[]

No comments:
Post a Comment