2013/06/18

seabad pendekar HAM Yap Thiam Hien (bagian 4/4)

Bagian ke-3

by Damar Fery Ardiyan
Link: http://www.portalkbr.com/berita/saga/2679675_4216.html. Media: PortalKBR.com; rilis: {20:00 17-Jun-2013}; akses: {08:50 18-Jun-2013}.

Bela Tapol

Hariman Siregar bekas Ketua Dewan Mahasiswa UI yang
pernah dibela advokat Yap Thiam Hien saat Kasus
Malari (Foto: Damar, KBR68H).
Gambar diambil dari PortalKBR.com.
HARIMAN yang juga ditangkap, bertemu dengan Yap pada Juni 1974 di sel. Sebelumnya, dia mengaku ditahan di Pusat Interogasi Khusus yang terletak di Kebayoran Lama.

“Jadi kita masuk RTM bulan Juni. Pak Yap sudah ditahan lebih dulu. Di situlah saya melihat pak YAP. Orangtua, ubanan, kurus dan biasalah setelan orang Cina, kaos singlet. Dia selalu semangat tinggi. Sering mengucapkan Haliluya. Dan menyemangati bahwa kita jangan takut, bahwa perjuangan selalu begitu. Itulah kesan pertama kali pak Yap itu,”

Di sana, Yap ditahan di Blok 3 bersama tahanan politik yang dituding terlibat Gerakan 30 September 1965. Sementara Hariman dikurung di Blok 5. Menurut Hariman, selama ditahan hampir satu tahun, Yap tidak pernah mengeluh. Yap kerap memberikan kursus hukum kepada tahanan politik lain di penjara.

“Pak Yap bikin kursus sama PKI-PKI. Jadi mengurus yang lain, bukan ngurusin diri kita. Jadi kita masuk, di dalam sudah penuh PKI. Kita tidak tahu persis, sebelum kita dijadikan tahanan. Ya Allah, penderitaan kita ini tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka. Mereka itu bodoh-bodoh di dalam, yang hanya dituduh PKI. Jadi, boro-boro kita mikirin diri kita, saya juga begitu. Kita mikirin mereka. Pak Yap, langsung bilang, rezim ini tidak benar. Makanya, bedanya orang yang care itu dia tidak mikirkan dirinya. Tidak cengeng,” kenang Hariman.

Salah satu materi yang diberikan dan diingat Hariman adalah soal tata cara persidangan. Kata dia, menirukan Yap, terdakwa tidak boleh dituntut sebelum kesaksian, seperti yang kerap dilakukan peradilan Orde Baru kala itu. “Dia mengajarkan kepada kita, anak-anak Malari yang diadili dan kepada PKI yang mau diadili. Supaya hukum acara peradilan itu terdakwa diperiksa belakangan, saksi lebih dulu. Dulu sebelum pak Yap mengajari itu, kita, khususnya PKI-PKI itu takut. Waktu itu yang diperiksa dulu itu terdakwa, terdakwa ngomong, lalu saksinya memberat-beratkan. Kata pak Yap itu salah. Dakwaan itu, jaksa mesti bawa saksi-saksi memperkuat dakwaannya, baru dintanykan kepada terdakwa terakhir, itu benar atau tidak.”

Melalui kursus itu, tahanan politik kembali bersemangat untuk menatap persidangan rezim represif Orde Baru. Kenang Hariman Siregar. “Kamu jangan takut. Kamu jangan mau ngaku. Dipukulin, laporin. Jadi PKI-PKI itu senang ada orang yang simpati, ada orang yang mau dengerin. (Sambil minum teh) Mereka senang, merasa semangatnya ada karena ada kita-kita.”

Putra Yap Thiam Hien, Yap Hong Gie membenarkan. “Ayah saya juga bantu, setiap tersangka itu sebelum diinterogasi atau disidang. Melatih tanya jawabnya bagaimana. Kalau tidak salah bang Hariman dan siapa lagi gitu..”

Itu bukan kali pertama, Yap membela tahanan politik. Pada 1 Oktober 1966, Yap pernah membela Wakil Perdana Menteri, Soebandrio di Mahkamah Militer luar biasa. Soebandrio di hadapkan ke persidangan karena dituding terlibat dalam Gerakan 30 September 1965. Meski antikomunis, Yap membela Soebandrio dengan gigih. “Advokat itu punya kode etik, siapapun musuh, lawan, musuh, kaya atau tidak punya uang itu harus dibela. Dari segi hukum waktu itu pemerintah membutuhkan pembela-pembela tapol ini, salah-satunya Soebandrio. Ayah saya diminta dengan beberapa pengacara lain dan menyetujui untuk membelanya,” jelas Yap.

Salah satu wartawan yang saat itu meliput persidangan Soebandrio, Aristides Katoppo mencoba mengingat peristiwa 47 tahun silam itu. “Waktu itu, sebagian kan menganggap (persidangan) itu sandiwara doank. Saya kira Yap tahu itu, tetapi dia tetap bersikap, itu tantangannya buat pemerintah. Dia mengungkap segala argumen-argumennya. Pada saat itu, hukum itu diperkosa oleh penguasa. Dan itu karena sikap yang konsisten dari Yap. Tetapi saya kira, Yap sadar dia bakal kalah.”

Soebandrio kemudian divonis hukum mati dalam sidang Mahkamah Militer Luar Biasa pada Desember 1966. Namun, putusan itu tidak menyurutkan langkah Yap untuk membela tahanan politik lain, seperti Abdul Latief dan Oei Tjoe Tat. Bukan mengejar kemenangan, tetapi untuk kebenaran.[]

Editor: Taufik Wijaya
5 kliping pilihanku!: seabad pendekar HAM Yap Thiam Hien (bagian 4/4) Bagian ke-3 by Damar Fery Ardiyan Link: http://www.portalkbr.com/berita/saga/2679675_4216.html . Media: PortalKBR.com ; rilis: {20:00 17-...

No comments:

Post a Comment

< ◘ >

My Blog List

Blog Archive

Islam Ahmadiyya » Al Islam Updates

Andreas Harsono

IndoPROGRESS

MalesBanget.com

Ketawa.com

Movienthusiast

Fiksi Lotus