YANG berlebih, kelebihannya akan direnggut kematian.
Yang kekurangan, kekurangannya akan diakhiri dengan kematian.
Yang berkecukupan, kecukupannya akan disudahi dengan kematian.
Yang populer, kepopulerannya akan dirampas kematian.
Yang tidak populer juga akan berujung pada kematian.
Jika kematian adalah kemestian, mengapa banyak orang gentar menghadapinya. Bahkan ada yang membuang-buang energi untuk menghindarinya.
Dalam Islam, kematian adalah salah satu tahapan perjalanan yang pasti dilalui oleh semua manusia.
Jika dipahami dan disikapi dengan cara yang benar, sesungguhnya kematian adalah nikmat yang patut disyukuri.
Tak ada Manusia yang luput dari kematian, percuma saja menghindarinya.
Cara terbaik menghadapi kematian adalah mempersiapkan diri sebaik-baiknya.
Karena dengan kematian sesungguhnya manusia tengah memasuki babak baru dalam kehidupannya, songsonglah dengan optimisme dan bahagia.
--
Kultwit “M.Quraish Shihab” @TafsirAlMishbah; rilis: 08:57 18-Agust-2013 sampai 09:03 19-Agust-2013; akses: 08:18 19-Agust-2013.
Gambar ilustrasi diambil dari Statik.Tempo.co; akses: 08:34 19-Agust-2013.
Nusantara: Pembantaian Massal di Orde Baru
-
Warisan kekerasan 1965 dan pembangunan ekonomi yang bertumpu pada
eksploitasi sumber daya alam membentuk politik Indonesia hingga kejatuhan
Suharto pada 19...
2 days ago

No comments:
Post a Comment