2015/06/09

Kemarau Datanglah...

Kompas Cetak
Oleh Yudadi BM Tri Nugraheny
Ilustrasi: Distri

Kompas Cetak | Ahad, 7 Juni 2015 | halaman 23


SUDAH beberapa hari ini langit cerah. Tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Rani senang sekali. Itu berarti ia bisa bermain di lapangan, bersepeda keliling desa, dan berbagai aktivitas di luar ruangan.

"Hore, hari yang cerah. Terima kasih Tuhan, Kau kabulkan doaku," kata Rani sambil tersenyum. "Kemarau sudah datang, Bu."

Ibu hanya tersenyum melihat tingkah putri semata wayangnya. "Tetapi jangan lupa tetap membawa payung ya, Nak," kata Ibu. "Di sini cerah, belum tentu dalam perjalanan ke sekolah juga cerah."

"Ah. Ibu, kan berat. Sekali ini saja ya, Bu, Rani tidak usah membawa payung," rengek Rani.

"Ingat, Nak. Ada pepatah, sedia payung sebelum hujan," kata Ibu.

Rani mengerucutkan bibirnya. Ia memasukkan kembali payung yang telah dikeluarkannya dari tas.


SAMPAI pulang sekolah memang tidak hujan. Tetapi hari ini panas sekali. Tidak seperti beberapa hari yang lalu. Ibu sudah menyiapkan segelas es teh untuk putri kesayangannya. Rasa segar melewati kerongkongan Rani.

"Ibu, hari ini sangat panas ya," kata Rani.

"Iya, mungkin mau hujan lagi," kata Ibu.

"Ah, tidak mungkin," kata Rani. "Kan, panas sekali. Masa malah mau hujan," tambah Rani. Diteguknya es teh buatan Ibu. Matanya menatap barisan semut yang beriringan di tembok. "Bu, lihat, kok semutnya banyak sekali? Semut gatal kan itu?" tanya Rani.

"Mana?" tanya Ibu.

"Tuh. di bawah meja makan." Rani memperhatikan barisan semut di tembok dan berakhir di bawah kulkas. Barisan semut itu membawa benda berwarna keputihan.

"Hari ini pasti hujan," kata Ibu.

"Kok bisa? Kok Ibu tahu? Ibu bisa meramal ya?" Rani memberondong Ibu dengan berbagai pertanyaan.

"Iya, semut itu berpindah sarang ke tempat yang lebih aman. Jauh dari genangan air," kata Ibu. "Itulah kuasa Tuhan, Nak. Lewat fenomena alam di sekitar, kita bisa tahu apa yang akan terjadi."

"Maksudnya Bu?" Rani mengerutkan keningnya.

"Ya, fenomena alam memberi tanda akan terjadi sesuatu. Contohnya, semut yang berarakan berpindah tempat itu menandakan akan turun hujan. Mereka mencari tempat yang aman. Jika peka terhadap lingkungan, kita bisa mengetahui apa yang akan terjadi," kata Ibu.

Sekarang Rani paham maksud Ibu. Memang apa yang dikatakan Ibu benar. Sore hari hujan turun dengan derasnya.


Kompas Cetak
SIANG itu, terdengar bunyi ngingggggg..nginggggg panjang dan bersahutan seperti suara tangisan.

"Ibu mendengar suara itu? Suara apa Bu?" tanya Rani. Selama ini Rani memang mendengarnya, tetapi ia tidak memperhatikan. Baru kali ini ia bertanya.

Ibu menajamkan pendengarannya. "Oh, itu suara kinjeng tangis. Ada pula yang menyebutnya dengan garengpung atau tonggeret," jawab Ibu.

"Apa? Kinjeng tangis, garengpung, tonggeret? Makhluk macam apa itu Bu?" tanya Rani.

"Kinjeng tangis adalah sejenis serangga. Suara tangisan mereka menandakan musim kemarau segera tiba. Serangga ini sudah jarang ditemukan karena rusaknya habitat tempat hidup mereka. Semakin keras dan cepat suara kinjeng tangis menandakan suhu udara semakin panas di sekitar mereka tinggal. Ini terutama untuk garengpung jantan. Beruntunglah kita tinggal di pedesaan dengan kondisi lingkungan yang baik."

"Oh ya?" Rani terbelalak kagum.

Tiupan angin yang lumayan kencang membawa serta sebuah benda berwarna coklat. Rani segera memungutnya. Selama ini ia dan teman-teman menyebutnya dengan mainan baling-baling.

"Kalau ini sebuah tanda bukan, Bu?" tanya Rani. Rani melemparkan biji mahoni itu ke atas. Biji itu terbang berputar-putar sebelum akhirnya jatuh ke tanah.

"Yap. benar sekali. Itu adalah biji mahoni," kata Ibu. "Itu bisa untuk obat, lho."

"Oh ya, biji ini?" Rani semakin terheran-heran.

"Iya, Nak. Ambillah, buka bagian yang menggelembung. Nanti kamu temukan bijinya di sana. Biji mahoni dilengkapi tempat seperti itu supaya bisa tersebar dan memencar karena terbawa angin. Jika jatuh di tempat yang sesuai, biji itu akan tumbuh menjadi pohon. Itulah cara perkembangbiakan yang dibantu oleh angin. Tuhan menciptakan segala sesuatu ada maksudnya, sayang," kata Ibu.


"Seperti yang pernah Ibu katakan, jika kita peka terhadap lingkungan, kita bisa membaca apa yang akan terjadi."
5 kliping pilihanku!: Kemarau Datanglah... Kompas Cetak Oleh Yudadi BM Tri Nugraheny Ilustrasi: Distri Kompas Cetak | Ahad, 7 Juni 2015 | halaman 23 SUDAH beberapa hari...

No comments:

Post a Comment

< ◘ >

My Blog List

Blog Archive

Islam Ahmadiyya » Al Islam Updates

Andreas Harsono

IndoPROGRESS

MalesBanget.com

Ketawa.com

Movienthusiast

Fiksi Lotus