| Kompas Cetak |
Oleh Yudadi BM Tri Nugraheny
Ilustrasi: Distri
Kompas Cetak | Ahad, 7 Juni 2015 | halaman 23
SUDAH beberapa hari ini
langit cerah. Tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Rani senang sekali. Itu
berarti ia bisa bermain di lapangan, bersepeda keliling desa, dan berbagai
aktivitas di luar ruangan.
"Hore, hari yang cerah.
Terima kasih Tuhan, Kau kabulkan doaku," kata Rani sambil tersenyum.
"Kemarau sudah datang, Bu."
Ibu hanya tersenyum melihat
tingkah putri semata wayangnya. "Tetapi jangan lupa tetap membawa payung
ya, Nak," kata Ibu. "Di sini cerah, belum tentu dalam perjalanan ke
sekolah juga cerah."
"Ah. Ibu, kan berat.
Sekali ini saja ya, Bu, Rani tidak usah membawa payung," rengek Rani.
"Ingat, Nak. Ada
pepatah, sedia payung sebelum hujan," kata Ibu.
Rani mengerucutkan bibirnya.
Ia memasukkan kembali payung yang telah dikeluarkannya dari tas.
SAMPAI pulang sekolah memang
tidak hujan. Tetapi hari ini panas sekali. Tidak seperti beberapa hari yang
lalu. Ibu sudah menyiapkan segelas es teh untuk putri kesayangannya. Rasa segar
melewati kerongkongan Rani.
"Ibu, hari ini sangat
panas ya," kata Rani.
"Iya, mungkin mau hujan
lagi," kata Ibu.
"Ah, tidak
mungkin," kata Rani. "Kan, panas sekali. Masa malah mau hujan,"
tambah Rani. Diteguknya es teh buatan Ibu. Matanya menatap barisan semut yang
beriringan di tembok. "Bu, lihat, kok semutnya banyak sekali? Semut gatal
kan itu?" tanya Rani.
"Mana?" tanya Ibu.
"Tuh. di bawah meja
makan." Rani memperhatikan barisan semut di tembok dan berakhir di bawah
kulkas. Barisan semut itu membawa benda berwarna keputihan.
"Hari ini pasti
hujan," kata Ibu.
"Kok bisa? Kok Ibu tahu?
Ibu bisa meramal ya?" Rani memberondong Ibu dengan berbagai pertanyaan.
"Iya, semut itu
berpindah sarang ke tempat yang lebih aman. Jauh dari genangan air," kata
Ibu. "Itulah kuasa Tuhan, Nak. Lewat fenomena alam di sekitar, kita bisa
tahu apa yang akan terjadi."
"Maksudnya Bu?" Rani
mengerutkan keningnya.
"Ya, fenomena alam
memberi tanda akan terjadi sesuatu. Contohnya, semut yang berarakan berpindah
tempat itu menandakan akan turun hujan. Mereka mencari tempat yang aman. Jika
peka terhadap lingkungan, kita bisa mengetahui apa yang akan terjadi,"
kata Ibu.
Sekarang Rani paham maksud
Ibu. Memang apa yang dikatakan Ibu benar. Sore hari hujan turun dengan
derasnya.
| Kompas Cetak |
SIANG itu, terdengar bunyi
ngingggggg..nginggggg panjang dan bersahutan seperti suara tangisan.
"Ibu mendengar suara itu?
Suara apa Bu?" tanya Rani. Selama ini Rani memang mendengarnya, tetapi ia
tidak memperhatikan. Baru kali ini ia bertanya.
Ibu menajamkan
pendengarannya. "Oh, itu suara kinjeng tangis. Ada pula yang menyebutnya
dengan garengpung atau tonggeret," jawab Ibu.
"Apa? Kinjeng tangis,
garengpung, tonggeret? Makhluk macam apa itu Bu?" tanya Rani.
"Kinjeng tangis adalah
sejenis serangga. Suara tangisan mereka menandakan musim kemarau segera tiba.
Serangga ini sudah jarang ditemukan karena rusaknya habitat tempat hidup
mereka. Semakin keras dan cepat suara kinjeng tangis menandakan suhu udara semakin
panas di sekitar mereka tinggal. Ini terutama untuk garengpung jantan.
Beruntunglah kita tinggal di pedesaan dengan kondisi lingkungan yang
baik."
"Oh ya?" Rani
terbelalak kagum.
Tiupan angin yang lumayan
kencang membawa serta sebuah benda berwarna coklat. Rani segera memungutnya.
Selama ini ia dan teman-teman menyebutnya dengan mainan baling-baling.
"Kalau ini sebuah tanda
bukan, Bu?" tanya Rani. Rani melemparkan biji mahoni itu ke atas. Biji itu
terbang berputar-putar sebelum akhirnya jatuh ke tanah.
"Yap. benar sekali. Itu
adalah biji mahoni," kata Ibu. "Itu bisa untuk obat, lho."
"Oh ya, biji ini?"
Rani semakin terheran-heran.
"Iya, Nak. Ambillah,
buka bagian yang menggelembung. Nanti kamu temukan bijinya di sana. Biji mahoni
dilengkapi tempat seperti itu supaya bisa tersebar dan memencar karena terbawa
angin. Jika jatuh di tempat yang sesuai, biji itu akan tumbuh menjadi pohon.
Itulah cara perkembangbiakan yang dibantu oleh angin. Tuhan menciptakan segala
sesuatu ada maksudnya, sayang," kata Ibu.
"Seperti yang pernah Ibu
katakan, jika kita peka terhadap lingkungan, kita bisa membaca apa yang akan
terjadi."
No comments:
Post a Comment